It’s Ringing!
Dia, dia yang ada di hadapanku sekarang, kupu-kupu yang selalu aku damba. Setiap lekuk wajahnya sangat mempesona, mata menerawangnya yang sebening embun, rambut ikalnya yang melewati bahu. Aku serasa ikut melayang, terbang bersama sayap mungilnya yang mengepak pasti. Membawaku dalam hembusan rasa yang sangat menyenangkan, membuatku terpikat, mencandunya di setiap tarikan nafasku, belum pernah aku berada setinggi ini. Hanya dengan melihatnya yang duduk mematung seperti itu, tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. She takes my breathe away.
Aku ingin menempatkanmu di sampingku. Jangan khawatir lagi, aku akan menjagamu, melindungimu dalam dekapanku. Jangan hiraukan yang lain, percayalah kepadaku aku tak akan memberikanmu kepada yang lain. Tak bisa aku bernafas tanpamu. Aku menggilaimu, jika bukan dirimu aku tak membutuhkannya. Aku tidak akan bergerak, tetap terpaku di sini jika bisa melihat keindahanmu di bawah cahaya matahari pagi seperti ini. Aku terikat oleh setiap pesona yang kau suntikkan ke dalam aliran darahku.
Bisakah aku menghentikan waktu untukmu? Untuk mengabadikan keindahanmu? Bisakah?
Begitu banyak hal berputar di kepalaku sejak aku melihatmu.
Apakah aku menyukaimu? Tidak, tidak, bukan. Apakah aku mencintaimu? Walau terdengar bodoh, aku memang merasakannya kurasa. Semua masih dalam dunia yang berbeda dengan tempat di mana kau berada sekarang, tersedot dalam lembutnya cahayamu. Aku tidak tahu dengan pasti perasaan apa yang kurasakan sekarang. Ini masih terasa sangat abstrak sekarang, selamanya jika semua membeku dan hanya ada kau dan aku dalam duniaku sekarang.
Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, apakah aku harus menyingkir dari semua anganku tentangmu ini atau menunggumu beranjak? Aku takut bagaimana kau melihatku nanti.
Oh tidak, yang kutakutkan benar-benar terjadi. Dia bergerak dari bangkunya di depan gereja. Menengok ke arahku. Aku mematung, jantungku terasa berhenti berdetak, darahku berhenti mengalir, paru-paruku mengempis tanpa udara di dalamnya, seluruh tulangku rasanya seperti menyusut. Dia memandangku. Sedetik saja aku berharap ini semua tidak pernah terjadi. Sorot matanya berubah, ia tersenyum kepadaku.
TENG! TENG! TENG!
Bel gereja berdentang, hatiku ikut berdentang mendengarnya. Tanpa sadar, aku membalas senyumannya. Aku tahu apa yang aku rasakan sekarang, mengapa dia ada di hadapanku sekarang. Dia adalah keajaiban untukku hari ini.
# FIN #